Ini Hidupku, Aku yang Paling Berhak
Ternyata aku tidak pernah cukup di mata kalian
Aku tidak pernah sama dengan aku dalam impian kalian.
Lahir
Aku terlalu sombong memilih jalan lahir. Entah apa yang ada di pikiran bayi mungil ini kala itu. Apa aku dulu berpikir lahir dari orangtua konglomerat? Mengapa dengan percaya diri memilih jalan dengan harga mahal?
Balita
Wah betapa aku sangat di
elu-elukan mereka. Aku merangkak, berjalan, bahkan mampu berbicara lebih dulu
dari bayi-bayi yang seumuran denganku. Betapa mereka bangga meneceritakannya
padaku tempo hari, bahkan sering sekali diceritakan ulang.
Anak-anak
Aku versi anak-anak adalah kenangan
yang aku sendiri mulai tahu bagaimana adegannya. Tanpa perlu di ceritakan ulang
oleh mereka. Aku kala itu merasa sudah harus bersaing dengan sepupu dan
teman-temanku. Aku akan di banding-bandingkan dengan mereka jika aku tidak
mampu menghafal doa sholat lebih dulu daripada sepupu dan temanku. Lalu aku
akan di terbangkan ke udara saat aku juara pertamanya. Atau saat temanku sedang
belajar mengeja, aku sudah harus bisa membaca dengan lancar tanpa di eja. Ya,
seperti cara membacanya orang dewasa. Aku pernah menangis. Namun dikatakanlah
kalimat ini olehnya, “Aku keras karena ini untuk masa depanmu, saat kamu bisa
pun ini untuk dirimu sendiri, bukan orang lain”
Entah beruntung atau tidak, aku
kala itu selalu yang jadi juaranya.
Namun
Entah dia baru menyadarinya atau
memang baru terlihat gejalanya,
Kaki ku berpola huruf x
Cara berjalan ku bengkok
Cara ku berjalan berbeda dengan orang
lain
Dia bilang, aku sering iseng
berjalan seperti itu dan jadilah kebiasaan lalu menyebabkan fisik kaki seperti
ini. Aku kala itu tidak merasa melakukannya, namun mempercayai apa yang dikatakannya lalu mengatai diriku sendiri, aku benci diriku.
satu, kekuranganku.
“eh gigi lu ompong, hahahahah”
Celoteh seorang teman pada temanku yang
lain.
Dia benci dengan celotehan
itu.
Sedangkan aku kala itu, ingin
sekali merasakan gigi susu ku copot, tapi hampir tidak ada yang lepas, kecuali
aku sengaja pergi ke dokter gigi minta untuk di cabut, karena gigi baruku sudah
tumbuh sebelum gigi susu nya copot. Sungguh menyebalkan bahkan menurut diriku
sendiri apalagi menurut dia.
Alhasil, sekarang aku mempunyai senyuman dengan gigi gingsul yang berantakan.
Aku kala itu ingin sekali dukungan, dan kalimat "tidak apa-apa gigi mu gingsul, semua baik-baik saja". namun aku hanya bisa menangis dengan mendengar omelannya yang mengatakan ini semua karena aku malas menggoyang-goyangkan gigi susu. Aku percaya itu, aku menyesal dan semakin membenci diriku sendiri
dua, kekuranganku
Dia seringkali menyalahakanku
atas ini semua. Aku sudah cukup kehilangan kepercayaan diri dan dia secara
tidak langsung juga menambahkan. Aku kadang bersyukur, namun sering juga
bertanya apa dia benar-benar menerimaku?
Aku versi anak-anak bahkan sudah tidak
menyukai dirinya sendiri. Aku selalu ingin menjadi yang terhebat dalam hal apapun,
terutama dalam hal akademik, karena mungkin dengan ini aku bisa lebih percaya
diri, lalu mereka merasa cukup dan beruntung atas diriku. Mungkin dengan aku
yang selalu juara, membuat mereka lupa dengan kekuranganku.
Tidak, aku tetap kurang
Bahkan untuk aku yang sudah 23
tahun menjadi putrinya
Aku dianggap terlambat dalam segala
hal di umur ini
Pendidikan, karir, juga pasangan
Malam itu, akhirnya dia berkata
sesuai prasangka ku
“aku malu..”
Anehnya, aku tidak ingin meminta
maaf seperti dulu lagi
Aku minta maaf pada diriku sendiri,
karena harus mendengar kalimat ini dari orang yang paling aku sayang.
Ini hidupku. Saat aku sakit atau
kecelakaan pun, tidak ada yang lebih berhak untuk sedih selain diriku, apalagi
marah. Tidak ada yang boleh menerima permintaan maaf selain diriku sendiri.
Saat aku terlambat tentang segala
hal pun, yang boleh malu hanya aku.
Aku tahu mereka menyayangi ku
lebih dari siapapun, tapi tidak melebihi diriku sendiri. Aku yang paling tahu
bagaimana kerasnya usahaku untuk mencapai apa yang aku miliki sekarang walau menurut
mereka itu terlambat.
Aku sayang mereka, tuhan.
Walau aku menulis ini hidupku,
hati kecil ku masih berkata ini juga hidup ayah dan ibu ku. Tapi mereka tidak berhak
mengklaim setiap tahapan hidupku dengan kata-kata mereka. Aku sangat sakit
karena rasa sayang ku teramat besar. Aku gagal memahami kata-kata mereka dari dulu
sampai di usia ini.
Walau aku putrinya. Walau mereka
raja dan ratu, aku berhak atas hidupku, atas impian ku, bukan hidup atas impian
mereka. Aku berhak atas Bahagia versi diriku. Aku berhak atas hadiah juara
pertamaku.
you're enough
BalasHapus